Post Top Ad

Post Top Ad

Tampilkan postingan dengan label Afi Nihaya Faradisa. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Afi Nihaya Faradisa. Tampilkan semua postingan

Minggu, 28 Mei 2017

Mei 28, 2017

Bantahan terhadap yang membantah tulisan Afi Nihaya Faradisa

Penyanggah: Dek Afi yang terhormat, kita emang gak bisa milih kita memeluk agama apa, karena kita didoktrin oleh orang tua kita. Tapi adek tau gak, kalau secara fitrah kita udah muslim? Adek gak tau? Makanya kakak kasih tau sekarang, ada kok hadits nya dek :
Setiap anak dilahirkan dalam keadaan fitrah, kecuali orang tuanya yang menjadikannya Yahudi, Nasrani atau Majusi." (HR Bukhari 1296).
Jawab : anda menjawab secara fitrah sudah muslim,ini meniscayakan agama-agama lainpun melakukan klaim yang sama, anda emang ga belajar bahwa agama itu produk fitrah, tugas manusia yang berfikir adalah mengidentifikasi kalo ada agama yg tidak sesuai fitrah justru bukan agama. Atau kalau ada penafsiran alquran yang tidak sesuai dengan fitrah berarti bukan bagian dari islam. Bisakah anda definisikan dulu apa itu fitrah?.
Penyanggah: Tugas manusia adalah mencari jati diri nya, makanya setiap manusia dikasih otak buat berpikir lewat tanda-tanda yang Allah kasih. Makanya kita yang muslim nyebut muallaf sebagai "kembali ke fitrah", karena sejati nya dia kembali ke jati diri nya yang asli.
Jawab : Tugas manusia mencari jatidirinya, bukankah itu malah statment klise yang anda sendiri mungkin tidak menemukan argumentasi dalam mencari jati diri dan untuk apa mencari jati diri. Muallaf itu orang non muslim yang masuk agama islam, perkara apakah otomatis kembali ke fitrah, nanti dulu, anda terlalu terburu-buru. Fenomenanya tidak semua muallaf jadi orang baik, maka apa bila muallaf itu artinya kembali ke fitrah, pernyataan anda tidak logis alias invalid.
Penyanggah: Masalah bersitegang, ah adek ini kayak anak SD aja, jangankan soal iman dek, soal artis korea aja masih pada ngotot siapa yang paling ganteng / cantik, apalagi soal prinsip. Agama itu prinsip hidup dek, kalau kita menganggap semua agama benar, apa beda nya dengan balita yang gak bisa bedain mana kacang mana kecoak? Soal islam agama yang benar, kan udah ada dek ayat nya di Al-Baqarah ayat 2, penegasan nya ada di surat Yunus ayat 37-38. Kakak berani taruhan, nggak ada ayat-ayat setegas ini di agama lain. Coba aja adek cek, kalau adek udah gak sibuk sama wawancara dari orang-orang yang (maaf) sok bijak.
Jawab: cara bersaing anda tidak elegan, apabila sesuatu yang anda tawarkan istimewa, promosikan kelebihan produk anda tanpa harus merendahkan produk lain, islam melarang kita menghina Tuhan dan agama lain, anda justru membolehkan, anda ini terinspirasi dari agama apa ya? Anda mengutip2 ayat tapi mengajukan taruhan, dimana islam melarang mengundi nasib, apakah cara berpikir anda ini liberal yang singkretis dengan kejumudan?. Saya rasa Afi jauh lebih bermanfaat dengan orang-orang yang menurut anda sok bijak, karna orang yang mengatakan orang lain sok bijak adalah orang yang menganggap dirinya bijak, sedangkan orang menganggap dirinya bijak bisa dipastikan tidak bijak sama sekali.
Penyanggah: Maksud adek jangan sesekali menjadi Tuhan gimana dek? Karena kita melabeli orang sebagai kafir dan masuk neraka? Mungkin adek meradang sama mereka yang melabeli orang dengan sebutan kafir, tapi adek tau gak kalau mereka cuma mencocokkan identitas mereka dengan apa yang ada di Alquran? Gak ada beda nya dek sama petugas warnet yang disuruh pemilik warnet untuk melabeli tingkat pendidikan dari seragam yang dipakai, gak lebih. Tapi apa dengan itu si petugas langsung merasa jadi pemilik warnet? Nggak kan. Gak usah pake bayangkan dek, adek pernah baca Al-baqarah ayat 256 gak? Kalau iya, aneh kalau adek masih bilang islam memaksa orang lain pindah agama. Lagipula liat aja dek sejarah nya, agama mana yang paling suka memaksa orang lain memeluk agama mereka ketika mereka menjadi mayoritas, buka mata dan jadilah orang dewasa dek.
Jawab: kalo anda memang serius membaca tulisan Afi, padahal sangat mudah, yang dimaksud itu anda jangan jadi Tuhan bagi sesama. Itu kan bisa dipahami bahwa saat posisi anda tidak lebih baik dari orang lain, jangan berusaha menghakimi. Orang yang tau diri akan tau Tuhannya, kalau yang tidak tahu diri akan berlagak menjadi tuhan bagi sesamanya. Anda liat sejarah itu pasti dari buku, dan buku sejarah yang anda baca belum mencukupi klaim anda bahwa agama lain yang lebih memaksa saat jadi mayoritas. Cordoba sejarah awal ekspansi islam yg berdarah-darah, adalagi ekpansi bangsa tar tar, ekspansi keturunan jengis khan yang mualaf seperti kata anda kembali ke fitrah, malah banyak membantai orang, bahkan korbannya banyak dari kalangan muslim sendiri. Saran saya ga perlu terlalu percaya diri anda tau sejarah, baca lagi.
Penyanggah: Semua orang berhak mengklaim agama mereka yang terbaik, gak ada yang larang kok, wong iklan detergen aja bilang produk mereka yang terbaik. Tapi masalahnya, sejauh mana akal pikiran kita dipakai buat mencari kebenaran yang paling benar, bukan kebenaran atas dasar pingin tenar. Balik lagi ke tantangan yang kakak sebutkan diatas, adakah agama lain yang punya ayat setegas Al-Baqarah ayat 2?
Jawab : klaim itu ada pembuktiannya, kalo cuma klaim besok kita tunggu aja ada artis yang klaim buat agama dan kebenaran sendiri, anda ini standard agamanya diukur dengan deterjen sih, jadi agak sulit emang bedakan mana yang punya kesucian sama yang sekedar penghilang noda. Anda ingin mencari kebenaran tapi anda tidak punya alat untuk mengidentifikasi apa itu benar dan apa syarat-syarat mencapai benar. Anda ini benar-benar belum benar.
Penyanggah: Label neraka atau surga, itu juga gak lebih kayak guru yang bilang ke murid nya yang pemalas bahwa dia gak bakalan naik kelas. Logis toh? Gimana cara nya naik kelas kalau belajar aja nggak? Sama kayak label neraka, gimana mau masuk surga kalau sama Allah aja gak percaya?
Jawab: Seorang guru yang mengatakan muridnya pemalas adalah pemantik dan si guru menaruh harapan bahwa si murid kelak akan rajin, dengan analogi ini apakah dengan masuk neraka sama saja dengan pemantik agar si pendosa kelak akan masuk surga dengan cara masuk neraka, jika seperti itu manusia tidak perlu berbuat baik untuk masuk surga, cukup dengan masuk neraka saja kelak akan ke surga juga, ini super ga logis.
Tidak ada dek yang meragukan kekuasaan Tuhan, tapiiii... Baca lagi ya dek sejarah nya, Allah gak pernah membuat agama lain selain Islam, orang-orang dhalim lah yang memutar balikkan fakta menjadi agama-agama baru yang beraneka ragam. Itu juga jadi salah satu bukti kekuasaan Allah & salah satu bentuk ujian di dunia untuk makhluk-Nya. Makanya banyak baca ya dek, mumpung masih muda :)
Jawab: sebelumnya anda bilang selain agama islam kafir, lalu sekarang anda bilang tidak ada yang meragukan kekuasaan Tuhan. Lalu kafir itu yang bagaimana?. Orang lain yang menurut anda zalim membuat agama baru, jadi ada agama baru sebelum nabi Muhammad membawa agama islam sebagi ajaran Tuhan yang paling terakhir, kedengerannya kok lucu ya?. Tolong untuk jawaban saya yang ini anda baca diulang sampe empat atau lima kali, saya jamin anda tertawa menertawakan diri anda.
Penyanggah: Soal kerukunan dek, kita bandingin aja yuk arab saudi vs italia, negara yang mewakili dua agama terbesar di dunia, di negara mana terjadi lebih banyak kriminalitas? Mohon bandingin nya pake akal sehat yah dek, jangan pake kebencian terhadap kaum bergamis.
Jawab: Anda melakukan komparasi yang tidak sama posisinya. Italia negara yg sudah berdiri jauh sejak kerajaan Roma sebagai kerajaan yang sah. Arab saudi kalo anda tidak terlalu sedikit membaca sejarah adalah sebuah negara yang di ambil dari syarif husein atas bantuan britania. merebut sebuah negara adalah kejahatan yang tak ternilai dan tidak dibenarkan dalam islam.
Penyanggah: Yang nama nya mayoritas, wajar kok kalau mereka menerapkan hukum mereka, analogi nya, di rumah adek, yang berlaku adalah adat istiadat di keluarga dek Afi kan? Kalau semisal ada orang lain yang ujug-ujug dateng ke rumah adek dan maksa keluarga adek ikutin adat istiadat dia, apa adek mau terima?
Jawab : Maaf boleh dikoreksi sedikit ga analoginya?, Rumah itu di dirikan dari keluarga yang telah memiliki adat istiadat daerah dimana orang tersebut lahir. Negara didirikan bukan dari satu keluarga, satu adat, satu agama. Anda mau mengatakan islam mayoritas tidak masalah, tapi asal anda tahu bukan hanya islam yang mendirikan negara ini. Baca sejarah lagi.
Penyanggah: Adek kayaknya beneran gak tau ya sejarah pancasila? Clue nya jelas dek, sila ke satu apa? Agama apa yang sepaham dengan sila ke satu? Adek harus tau, bahwa dasar negara kita yang paling inti diambil dari Alquran, bukan dari injil, weda, tripitaka atau kitab lain nya. Makanya kakak aneh liat tulisan adek yang bilang dasar negara gak boleh dari salah satu agama. Tanah yang kamu pijak itu juga bisa terbebas dari penjajah atas jasa para ulama dan santri loh dek, apa coba kitab panutan mereka? Yang jelas bukan komik Doraemon.
Jawab : apakah anda yakin lebih tau sejarah pancasila daripada Afi? Cluenya memang sangat jelas sampai anda melakukan tafsir. Semua agama di indonesia sampai yang bentuknya kepercayaan sepaham dengan sila kesatu, buktinya seluruh bangsa sepakat dengan pancasila sebagai asas negara, anda tidak mengetahui prinsip ketuhanan agama lain tapi mencoba menilai. Kita tidak bisa menilai sudut pandang orang lain dari tempat kita berpijak.
Penyanggah: Suatu hari nanti kakak akan menceritakan kepada keturunan kakak bahwa ada banyak oknum bertulisan seperti bijak yang aslinya bahkan nggak ngerti apa arti bijak itu sendiri. Orang-orang yang menginginkan situasi yang sangat fana dan diluar jangkauan realitas hanya karena ingin diterima oleh berbagai pihak. Kakak harap dek Afi gak masuk sebagai jajaran oknum itu :)
Jawab: Seandainya anda memang bijak anda tidak akan mudah menuduh orang lain tidak bijak, itu syarat wajib bijaksana.
Terakhir, kakak mau menukil quote dari Abdullah bin Mas'ud :
"Ilmu itu bukanlah sebuah kemahiran dalam berkata-kata, tetapi ilmu itu (menimbulkan) taqwa kepada Tuhan"
Dari hamba Allah yang masih mencari ilmu
Jawab: ya Allah berikanlah dia ilmu, yang sekarang masih agak belum cukup ya Allah.
Achmad rizky edward siahaan
- salam toleransi-
Mei 28, 2017

Teruntuk dek Afi Nihaya Faradisa

Dek Afi yang terhormat, kita emang gak bisa milih kita memeluk agama apa, karena kita didoktrin oleh orang tua kita. Tapi adek tau gak, kalau secara fitrah kita udah muslim? Adek gak tau? Makanya kakak kasih tau sekarang, ada kok hadits nya dek :
Setiap anak dilahirkan dalam keadaan fitrah, kecuali orang tuanya yang menjadikannya Yahudi, Nasrani atau Majusi." (HR Bukhari 1296).
Tugas manusia adalah mencari jati diri nya, makanya setiap manusia dikasih otak buat berpikir lewat tanda-tanda yang Allah kasih. Makanya kita yang muslim nyebut muallaf sebagai "kembali ke fitrah", karena sejati nya dia kembali ke jati diri nya yang asli.

Masalah bersitegang, ah adek ini kayak anak SD aja, jangankan soal iman dek, soal artis korea aja masih pada ngotot siapa yang paling ganteng / cantik, apalagi soal prinsip.
Agama itu prinsip hidup dek, kalau kita menganggap semua agama benar, apa beda nya dengan balita yang gak bisa bedain mana kacang mana kecoak? Soal islam agama yang benar, kan udah ada dek ayat nya di Al-Baqarah ayat 2, penegasan nya ada di surat Yunus ayat 37-38. Kakak berani taruhan, nggak ada ayat-ayat setegas ini di agama lain. Coba aja adek cek, kalau adek udah gak sibuk sama wawancara dari orang-orang yang (maaf) sok bijak.

Maksud adek jangan sesekali menjadi Tuhan gimana dek? Karena kita melabeli orang sebagai kafir dan masuk neraka?
Mungkin adek meradang sama mereka yang melabeli orang dengan sebutan kafir, tapi adek tau gak kalau mereka cuma mencocokkan identitas mereka dengan apa yang ada di Alquran? Gak ada beda nya dek sama petugas warnet yang disuruh pemilik warnet untuk melabeli tingkat pendidikan dari seragam yang dipakai, gak lebih. Tapi apa dengan itu si petugas langsung merasa jadi pemilik warnet? Nggak kan.

Gak usah pake bayangkan dek, adek pernah baca Al-baqarah ayat 256 gak? Kalau iya, aneh kalau adek masih bilang islam memaksa orang lain pindah agama. Lagipula liat aja dek sejarah nya, agama mana yang paling suka memaksa orang lain memeluk agama mereka ketika mereka menjadi mayoritas, buka mata dan jadilah orang dewasa dek.

Semua orang berhak mengklaim agama mereka yang terbaik, gak ada yang larang kok, wong iklan detergen aja bilang produk mereka yang terbaik. Tapi masalahnya, sejauh mana akal pikiran kita dipakai buat mencari kebenaran yang paling benar, bukan kebenaran atas dasar pingin tenar. Balik lagi ke tantangan yang kakak sebutkan diatas, adakah agama lain yang punya ayat setegas Al-Baqarah ayat 2? 

Label neraka atau surga, itu juga gak lebih kayak guru yang bilang ke murid nya yang pemalas bahwa dia gak bakalan naik kelas. Logis toh? Gimana cara nya naik kelas kalau belajar aja nggak? Sama kayak label neraka, gimana mau masuk surga kalau sama Allah aja gak percaya?

Tidak ada dek yang meragukan kekuasaan Tuhan, tapiiii... Baca lagi ya dek sejarah nya, Allah gak pernah membuat agama lain selain Islam, orang-orang dhalim lah yang memutar balikkan fakta menjadi agama-agama baru yang beraneka ragam. Itu juga jadi salah satu bukti kekuasaan Allah & salah satu bentuk ujian di dunia untuk makhluk-Nya. Makanya banyak baca ya dek, mumpung masih muda :)

Soal kerukunan dek, kita bandingin aja yuk arab saudi vs italia, negara yang mewakili dua agama terbesar di dunia, di negara mana terjadi lebih banyak kriminalitas? Mohon bandingin nya pake akal sehat yah dek, jangan pake kebencian terhadap kaum bergamis.
Yang nama nya mayoritas, wajar kok kalau mereka menerapkan hukum mereka, analogi nya, di rumah adek, yang berlaku adalah adat istiadat di keluarga dek Afi kan? Kalau semisal ada orang lain yang ujug-ujug dateng ke rumah adek dan maksa keluarga adek ikutin adat istiadat dia, apa adek mau terima?

Adek kayaknya beneran gak tau ya sejarah pancasila? Clue nya jelas dek, sila ke satu apa? Agama apa yang sepaham dengan sila ke satu? Adek harus tau, bahwa dasar negara kita yang paling inti diambil dari Alquran, bukan dari injil, weda, tripitaka atau kitab lain nya. Makanya kakak aneh liat tulisan adek yang bilang dasar negara gak boleh dari salah satu agama. Tanah yang kamu pijak itu juga bisa terbebas dari penjajah atas jasa para ulama dan santri loh dek, apa coba kitab panutan mereka? Yang jelas bukan komik Doraemon.

Suatu hari nanti kakak akan menceritakan kepada keturunan kakak bahwa ada banyak oknum bertulisan seperti bijak yang aslinya bahkan nggak ngerti apa arti bijak itu sendiri. Orang-orang yang menginginkan situasi yang sangat fana dan diluar jangkauan realitas hanya karena ingin diterima oleh berbagai pihak. Kakak harap dek Afi gak masuk sebagai jajaran oknum itu :)

Terakhir, kakak mau menukil quote dari Abdullah bin Mas'ud :
"Ilmu itu bukanlah sebuah kemahiran dalam berkata-kata, tetapi ilmu itu (menimbulkan) taqwa kepada Tuhan"
Dari hamba Allah yang masih mencari ilmu

Gilang Kazuya Shimura

Minggu, 14 Mei 2017

Mei 14, 2017

WARISAN

Kebetulan saya lahir di Indonesia dari pasangan muslim, maka saya beragama Islam. Seandainya saja saya lahir di Swedia atau Israel dari keluarga Kristen atau Yahudi, apakah ada jaminan bahwa hari ini saya memeluk Islam sebagai agama saya? Tidak.

Saya tidak bisa memilih dari mana saya akan lahir dan di mana saya akan tinggal setelah dilahirkan. 
Kewarganegaraan saya warisan, nama saya warisan, dan agama saya juga warisan.
Untungnya, saya belum pernah bersitegang dengan orang-orang yang memiliki warisan berbeda-beda karena saya tahu bahwa mereka juga tidak bisa memilih apa yang akan mereka terima sebagai warisan dari orangtua dan negara.
.
Setelah beberapa menit kita lahir, lingkungan menentukan agama, ras, suku, dan kebangsaan kita. Setelah itu, kita membela sampai mati segala hal yang bahkan tidak pernah kita putuskan sendiri.
.
Sejak masih bayi saya didoktrin bahwa Islam adalah satu-satunya agama yang benar. Saya mengasihani mereka yang bukan muslim, sebab mereka kafir dan matinya masuk neraka.
Ternyata,
Umat Kristen ternyata juga punya anggapan yang sama terhadap agamanya. Mereka mengasihani orang yang tidak mengimani Yesus sebagai Tuhan, karena orang-orang ini akan masuk neraka, begitulah ajaran agama mereka berkata.

Maka,
Bayangkan jika kita tak henti menarik satu sama lainnya agar berpindah agama, bayangkan jika masing-masing umat agama tak henti saling beradu superioritas seperti itu, padahal tak akan ada titik temu.
Jalaluddin Rumi mengatakan, "Kebenaran adalah selembar cermin di tangan Tuhan; jatuh
dan pecah berkeping-keping. Setiap orang memungut kepingan itu,
memperhatikannya, lalu berpikir telah memiliki kebenaran secara utuh."
.
Latar belakang dari semua perselisihan adalah karena masing-masing warisan mengklaim, "Golonganku adalah yang terbaik karena Tuhan sendiri yang mengatakannya".
Lantas, pertanyaan saya adalah kalau bukan Tuhan, siapa lagi yang menciptakan para Muslim, Yahudi, Nasrani, Buddha, Hindu, bahkan ateis dan memelihara mereka semua sampai hari ini?
.
Tidak ada yang meragukan kekuasaan Tuhan. Jika Dia mau, Dia bisa saja menjadikan kita semua sama. Serupa. Seagama. Sebangsa.
Tapi tidak, kan?
.
Apakah jika suatu negara dihuni oleh rakyat dengan agama yang sama, hal itu akan menjamin kerukunan? Tidak!
Nyatanya, beberapa negara masih rusuh juga padahal agama rakyatnya sama.
Sebab, jangan heran ketika sentimen mayoritas vs. minoritas masih berkuasa, maka sisi kemanusiaan kita mendadak hilang entah kemana.
.
Bayangkan juga seandainya masing-masing agama menuntut agar kitab sucinya digunakan sebagai dasar negara. Maka, tinggal tunggu saja kehancuran Indonesia kita.
.
Karena itulah yang digunakan negara dalam mengambil kebijakan dalam bidang politik, hukum, atau kemanusiaan bukanlah Alquran, Injil, Tripitaka, Weda, atau kitab suci sebuah agama, melainkan Pancasila, Undang-Undang Dasar '45, dan semboyan Bhinneka Tunggal Ika.
Dalam perspektif Pancasila, setiap pemeluk agama bebas meyakini dan menjalankan ajaran agamanya, tapi mereka tak berhak memaksakan sudut pandang dan ajaran agamanya untuk ditempatkan sebagai tolak ukur penilaian terhadap pemeluk agama lain. Hanya karena merasa paling benar, umat agama A tidak berhak mengintervensi kebijakan suatu negara yang terdiri dari bermacam keyakinan.
.
Suatu hari di masa depan, kita akan menceritakan pada anak cucu kita betapa negara ini nyaris tercerai berai bukan karena bom, senjata, peluru, atau rudal, tapi karena orang-orangnya saling mengunggulkan bahkan meributkan warisan masing-masing di media sosial.
Ketika negara lain sudah pergi ke bulan atau merancang teknologi yang memajukan peradaban, kita masih sibuk meributkan soal warisan.
.
Kita tidak harus berpikiran sama, tapi marilah kita sama-sama berpikir.

Afi Nihaya Faradisa

Selasa, 02 Mei 2017

Mei 02, 2017

Sebuah Catatan di Hari Pendidikan Nasional: MENGAPA JUMLAH ANAK BODOH JAUH LEBIH BANYAK DARIPADA JUMLAH ANAK PINTAR?

Ditulis oleh Afi Nihaya Faradisa
Jika sebuah kelas ditempati oleh 30 orang siswa, maka kelas tersebut akan memproduksi 10 anak pintar di peringkat atas dan 20 anak kurang pintar di peringkat bawah.
Di dunia ekonomi, pabrik yang menghasilkan lebih banyak "produk gagal" daripada "produk bermutu" akan dikategorikan sebagai kesalahan produksi, kemunduran suatu industri. Pabrik tersebut sudah selayaknya berbenah jika tidak mau mendulang kebangkrutan.
Mengenai pendidikan, saya sendiri tidak setuju dengan adanya sebutan anak bodoh dan anak pintar (pengecualian untuk yang memiliki kelainan otak).
Mengapa?

Otak manusia adalah komputer terhebat di dunia. Gali dan sadari kehebatannya.
Otak kita terdiri dari 1 triliun sel otak, dan diantaranya terdiri dari 100-200 miliar sel otak aktif (neuron) dan sisanya adalah sel-sel pendukungnya. Dan ada kabar yang menggembirakan kita bahwa menurut penyelidikan jumlah sel otak manusia normal, seperti kita, ternyata tidak berbeda jauh dengan sel otak manusia jenius, seperti Albert Einstein. Jumlahnya hanya berselisih beberapa juta saja, dan dibandingkan dengan 1 triliun jumlah sel otak kita, maka selisih tersebut tidak ada artinya. Dengan demikian, dapat dipastikan bahwa setiap manusia punya potensi JENIUS!

Bahkan Albert Einstein pun mengatakan bahwa didunia ini hanya ada 2 hal yang tidak terbatas, yaitu alam semesta dan otak manusia. Dia pun menyatakan bahwa kita semua terlahir dengan memiliki potensi jenius.
“There is Genius in all of us” katanya.

Otak kita juga punya kapasitas penyimpanan informasi yang luar biasa banyaknya, bahkan TIDAK TERBATAS! berikut ini adalah beberapa ilustrasi untuk menggambarkan ketidakterbatasan kapasitas memori otak manusia. Menurut Prof. Marc Rosenweig, apabila dalam 1 detik saja kita bisa mengingat 10 informasi baru, dalam 100 tahun kita baru menggunakan kapasitas otak kita kurang dari 10% saja. Bahkan hasil penelitian yang lebih ekstrim lagi, yaitu oleh seorang pakar otak dari rusia,

Prof. Pyotr Anokhin, dia mengatakan bahwa otak kita mempunyai kemampuan mengingat informasi sebanyak angka 1 yang diikuti angka 0 yang panjangnya 10.500.000 kilometer. Kapasitas ingatan otak manusia juga setara dengan 500 set buku ensiklopedia. Sangat mengagumkan bukan?
Namun ironisnya, menurut penelitian, rata-rata manusia baru mempergunakan kemampuan otaknya kurang dari 1% saja. Tentu angka ini juga mencengangkan bukan? Apa jadinya kalau manusia bisa mempergunakan kemampuan otaknya 10% saja, bisa dibayangkan seperti apa kemajuan teknologi dan kehidupan yang lebih baik yang bisa diciptakan manusia saat ini. 

Berikut ini adalah sedikit ilustrasi mengenai hal tersebut, menurut pakar otak, apabila Anda bisa mempergunakan 8 % saja dari seluruh kemampuan otak Anda, bisa menjadi seorang profesor di 8 cabang ilmu yang berbeda-beda, dan bisa menguasai 18 bahasa asing. WOW!
(Disadur dari Brain Management Series for Learning Strategy, Elex Media Komputindo 2011).
Seorang pakar pengembangan potensi otak, Dr. Tony Buzan berkata bahwa "Brain is like a sleeping giant".

Otak kita ibarat raksasa yang sedang tidur karena potensinya yang sangat luar biasa. Sekarang tinggal tergantung kita bagaimana cara 'membangunkannya'.
Kita pasti sepakat bahwa pelajaran sekolah itu sebenarnya sederhana jika dibandingkan dengan kapasitas otak manusia yang luar biasa. Jadi, jika seorang siswa kesulitan dalam menguasainya, patut dipertanyakan MENGAPA.
Apa yang salah selama ini sehingga manusia dengan kapasitas otak yang luar biasa tidak mampu menguasai pelajaran sekolah?

  1. SISWA TIDAK MENGGUNAKAN KEDUA BELAH OTAKNYA

Siswa jarang memaksimalkan antara otak kiri dan kanan secara seimbang. Mengapa siswa lebih suka baca komik, main internet, atau main game daripada belajar? Sebab, kegiatan-kegiatan tersebut melibatkan kedua belahan otak (pelajari sendiri tentang fungsi, cara kerja, dan karakteristik kedua belahan otak), sehingga kegiatan tersebut terasa menyenangkan. Sedangkan kegiatan belajar di sekolah memaksa anak lebih dominan dalam menggunakan otak kiri saja (aspek bahasa/verbal dan logika).
Menggunakan otak kiri dan kanan dengan tidak seimbang menyebabkan para siswa:
- Tidak bisa konsentrasi
- Tidak kreatif
- Bosan belajar
- Mudah lupa
- Otak sudah merasa "penuh" padahal yang sebenarnya terjadi adalah otak sudah jenuh karena penggunaannya timpang/tidak seimbang

     2. SISWA TIDAK PERNAH BELAJAR CARA BELAJAR

Fenomena yang paling sering terjadi pada siswa (bahkan pada Anda sendiri saat di bangku sekolah) adalah cenderung lebih mementingkan:
- APA yang dipelajari, bukan BAGAIMANA cara mempelajarinya
- APA yang perlu dipikirkan, bukan BAGAIMANA cara berpikir yang terbaik dan paling kreatif
Pernahkah Anda diajarkan bagaimana cara belajar: teknik mencatat, teknik mengingat, teknik mempersiapkan ujian, teknik meringkas, dan sebagainya? Saya yakin dari TK sampai kuliah kita jarang sekali bahkan tidak pernah diajarkan semua itu oleh sekolah. Akibatnya kita tidak tahu bagaimana "cara belajar", "cara belajar yang efektif dan efisien", apalagi "cara belajar yang menyenangkan".

Maka tidak mengherankan jika banyak anak yang stress ketika belajar. Ini adalah fenomena klasik.
Padahal pepatah lama mengatakan, "Jangan hanya memberi ikan, tapi ajarkan cara menangkap ikannya juga."
Lagipula, memaksa siswa untuk selalu menambah waktu belajar dan materi pelajaran tanpa mengajarnya cara belajar yang menyenangkan justru akan membuat mereka frustasi dan pemahaman akan esensi pelajaran sangat minim.

Masing-masing siswa juga harus memahami gaya belajarnya; apakah visual, auditori, dan kinestetik.
Menurut Howard Gardner, tiap manusia memiliki kecerdasan yang menonjol. Misal, pada tes kecerdasan berganda, saya memiliki kecerdasan yang paling dominan yakni tipe kecerdasan intrapersonal. Tentu saja tipe kecerdasan Anda tidak harus sama dengan saya. Anda mungkin bertipe kecerdasan musikal sehingga Anda menyukai dan berbakat dalam bidang musik. Anda mungkin bertipe kecerdasan kinestetik sehingga Anda berbakat dalam bidang olahraga. Ada 9 tipe kecerdasan yang berbeda, tidak ada yang lebih baik atau lebih buruk antar satu sama lainnya.

Tapi, sekolah umumnya hanya mengistimewakan tipe kecerdasan logika-matematika, verbal-linguistik, dan visual-spasial.
Hal itu menyebabkan siswa dengan tipe kecerdasan yang lain merasa "tidak diperhatikan", "dikesampingkan", "dianggap bodoh", dan seterusnya.

Pada akhir tulisan ini,
Saya ingin menyampaikan bahwa sampai hari ini sejak saya pertama kali viral di tahun lalu karena tulisan tentang pendidikan juga,
Kesimpulan saya tidak pernah berubah:
"Sesungguhnya tidak ada siswa yang bodoh, yang ada hanya siswa yang tidak berkesempatan untuk belajar dengan benar."
Saya capek-capek mengetik tulisan panjang yang tidak dibayar seperti ini semata-mata adalah karena saya peduli dengan pendidikan Indonesia, peduli dengan masa depan bangsa kita di tangan mereka; para siswa.

Selamat Hari Pendidikan Nasional!