Post Top Ad

Post Top Ad

Tampilkan postingan dengan label Dina Sulaeman. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Dina Sulaeman. Tampilkan semua postingan

Minggu, 21 Mei 2017

Mei 21, 2017

Contoh Kedua

Dalam khasanah ilmu mantiq (logika), ada yang disebut ‘mughalathath’ (logical fallacy/ kesalahan logika). Salah satu bentuk kesalahan logika adalah “qiyas ma’al faariq” (menganalogikan sesuatu dengan sesuatu yang lain, tapi tidak setara). 

Gunanya apa sih, berpikir logis itu? Tentu saja supaya kesimpulan yang diambil adalah kesimpulan yang benar.

Coba perhatikan kalimat ini, “Kamu ini sudah gedhe ga bisa brenang, malu dong sama ikan, sejak bayi udah mahir brenang!” Logis gak? Enggaklah; kalimat tsb pake “qiyas ma’al fariq”.

Nah, logika falasi yang dipakai di meme ini adalah: Menag tidak mau memerintahkan warung tutup di bulan Ramadhan untuk menghormati mereka yang TIDAK PUASA, maka harusnya Menag memerintahkan Bandara Bali BUKA DI HARI NYEPI untuk menghormati mereka yang tidak beribadah Nyepi. Jadi, yang dibandingkan adalah Warung+PUASA RAMADHAN dan bandara+NYEPI. Ini ga setara bro. PUASA di bulan Ramadhan itu ‘hanya’ gak makan-minum-seks. Tapi kerja mah tetep atuh lah, kita tetap melakukan berbagai aktivitas seperti biasa. Jika si muslim jalan melewati warung makan, ibadah puasanya ga batal. Sedangkan NYEPI itu ibadah Hindu yang artinya berdiam di rumah, tidak melakukan aktivitas. Artinya, kalau si Hindu ini dipaksa kerja, maka ibadahnya BATAL.

Perbandingan kedua yang dipake orang ini: Menag tidak mau memerintahkan warung tutup di bulan Ramadhan untuk menghormati mereka yang TIDAK PUASA, maka harusnya Menag juga memerintahkan mal untuk TIDAK PASANG POHON NATAL untuk menghormati mereka yang tidak Natalan. Nah ini lebih kacau lagi. Puasa Ramadhan kok diperbandingkan dengan POHON?! Emang orang Nasrani batal ya, Natalnya, kalau gak pasang pohon? Atau, orang Muslim jadi kafir kalau matanya melihat pohon Natal? Anggota DPR liat foto *teeeeet* saat sidang aja kayaknya kaga ada yang kafir2in, apalagi cuma liat pu’un ðŸ˜€

Contoh kalimat yang menggunakan logika setara: Kalau Menag memerintahkan Bandara Bali (yang karyawannya diasumsikan mayoritas Hindu) buka di hari Nyepi, itu sama artinya Menag melarang Muslim puasa di bulan Ramadhan. Kalau Menag melarang umat Nasrani pasang pu’un Natal, itu sama artinya dengan Menag melarang Muslim pakai baju baru di hari ‘Id (sama-sama tidak bernilai ibadah, hanya ‘hiasan’ ibadah belaka).


Dina Sulaeman

Senin, 15 Mei 2017

Mei 15, 2017

LOGIKA TIMTENG KE-1

Sepekan yang lalu, saya sudah berpikir untuk mengurangi fesbukan karena ada beberapa pekerjaan saya (misalnya ngedit buku dan jurnal) yang terbengkalai. Penyebabnya karena menejemen waktu saya yang buruk, dan sebagiannya akibat terlalu banyak berinteraksi di medsos. Tapi beberapa hal yang saya alami sepekan terakhir membuat saya berpikir ulang. Di antaranya, kata-kata berikut ini:

-Yang ibu sampaikan itu tidak benar! Saya mendengar dari ustad anu, tidak demikian kejadian di Suriah! Dia punya foto dan videonya!

-Ibu, kata Pak Jokowi, kita harus memisahkan antara agama dan politik. Tapi kita kan orang Islam? Masak kita harus menanggalkan keislaman kita dalam menganalisis politik?

-Bayangkan Mbak... jilbabku tuh udah selebar ini, masak aku dikatain kafir, munafik, anti Islam, hanya karena aku membela Ahok?

Sebenarnya, bila kita punya basis ilmu logika yang mantap (ga perlu sampai tahap ruwet-ruwet yang kalau di kampus filsafat musti dipelajari 3 semester itu), kalimat-kalimat itu tidak perlu muncul/terjadi. Pembahasannya, nanti ya.

Sekarang saya ingin mencari akar masalahnya dulu. Mengapa sih, orang di zaman sekarang sulit untuk berpikir logis? Mengapa dengan mudah kita temukan orang, atau tokoh, (atau mungkin kita sendiri) yang melakukan falasi (kesalahan berpikir)?

Penyebabnya tentu saja model pendidikan kita yang sejak dulu tidak memberikan basis ilmu logika yang kuat. Kalau kita kembali pada sejarah bangsa kita pada seputar 1965, kita akan menemukan bahwa dimulai pada masa itu, terjadi pemberangusan intelektual di Indonesia secara dahsyat.

Terlepas dari kesalahan faktual PKI (misalnya, almarhum Bapak mertua saya, seorang ulama lokal NU, pernah ada dalam list target pembunuhan mereka), tapi saat itu, ‘komunisme’ dijadikan dalih untuk melakukan pembunuhan massal besar-besaran di berbagai penjuru Indonesia.

Bayangkan, saat itu 500 ribu hingga jutaan (angkanya masih simpang-siur) orang Indonesia dibunuh massal oleh sesama orang Indonesia sendiri hanya gara-gara isu komunis. Mengapa yang komunis-komunis itu tidak dipenjara saja, mengapa harus ramai-ramai dibunuh dengan cara barbar? Kalau pelakunya rezim/tentara, itu bahasan lain, tapi ini pelakunya rakyat biasa, banyak pelakunya yang sebenarnya tetangga si korban. Mengerikan sekali.

Akibatnya, muncul ketakutan massal, dan secara massal, cara berpikir bangsa Indonesia ‘disetting ulang’ sehingga takut dan benci pada sesuatu yang berbeda. Saat itu, segala sesuatu yang ‘berbeda’ dari narasi mainstream dituduh komunis dan diberangus, dipenjara, atau dibunuh. Buku-buku mengenai teori kelas yang sebenarnya sangat efektif dalam memetakan konflik dan struktur ekonomi dunia/nasional, diberangus. Di saat yang sama kita digiring untuk mengagumi pemikiran Barat (dan dijadikan pondasi keilmuan) dan Imperium pun leluasa menguasai berbagai kekayaan alam di Indonesia.

‘Setting ulang pikiran’ saat ini sedang dicoba diulang oleh pihak-pihak tertentu. Tapi, masalahnya, tuduhan komunis sudah ‘gak kekinian’. Anak muda sekarang malah tertawa kalau dikatai komunis. Di kampus-kampus sudah biasa Marxisme dibahas. Bahkan kajian tentang Marx pernah digelar di salah satu ruang kelas di kompleks Masjid Salman dengan peserta membludak. Padahal yang jadi pembicara orang ‘kafir’ (saya juga hadir dalam kajian itu, duduk paling depan, dan mengajukan pertanyaan paling awam sedunia: apakah benar Karl Marx itu atheis?).

Isu yang paling efektif dipakai saat ini di Indonesia adalah muslim vs non-muslim, pribumi vs 'aseng', Sunni vs Syiah. Isu muslim-non muslim/pribumi vs 'aseng' dengan mudah bisa terbantahkan saat kita lihat para tokoh politik muslim berfoto mesra dengan non-muslim& ‘aseng’. Isu yang paling krusial, dan kita sudah lihat ‘hasil’-nya di Irak dan Suriah, adalah isu Sunni vs Syiah.

Terlepas dari kesalahan faktual orang-orang yang mengaku Syiah (misalnya Yaser Habib yang mangkal di Inggris, berserta para pengikutnya, yang merendahkan Ummul Mukminin dan para Khalifah), saat ini, Syiah dijadikan mantra untuk menjegal orang yang dianggap berbeda. Baik orang yang memang asli Syiah, terindikasi Syiah, punya buku Syiah, pernah nulis membela Syiah, berteman dengan orang Syiah, pernah ke Iran, Sunni tulen, atau non-muslim sekalipun, siap-siap saja dikatain Syiah (dalam definisi yang completely negative) ketika dia berada di barisan yang ‘berbeda’. Tokoh-tokoh politik populer, misalnya pak Ridwan Kamil, siap-siap saja dituduh Syiah oleh lawan politiknya (bahkan sudah dimulai prosesnya).

Dalam semua narasi pemicu konflik itu, sesungguhnya ada falasi (kesalahan berpikir). Karena itu, mulai hari ini saya akan mencoba memberikan “kuliah logika” (yang sederhana dan santai aja ya) di fanpage ini. Semoga bermanfaat buat pembaca dan saya sendiri. Contoh-contoh yang dibahas akan melulu tentang Timteng karena topik ini yang paling saya kuasai. Tapi ketika basis ilmunya dikuasai, bisa diterapkan dalam kasus apa saja.

Demikian dulu sebagai pengantar ya. Lanjutannya, ga janji, bisa hari ini, bisa besok :D
Saya kasih tagar #KuliahLogikaTimteng [klik tagar, nanti akan muncul list postingan dengan tagar yang sama, supaya bisa mengikuti lanjutannya]

25 April 2017
Dina Sulaeman
Mei 15, 2017

LOGIKA TIMTENG KE-2

Logika, secara singkat berarti: cara berpikir yang benar, yang dinyatakan dalam kata-kata.

Ada 4 hukum dasar logika (perlu dihafal nih):
1. Hukum kesamaan: sesuatu itu adalah sesuatu itu sendiri. Bashar Assad, ya Bashar Assad. Bashar Assad jelas bukan Moammar Qaddafi.
2. Hukum kontradiksi: Libya pasti bukan Suriah (tidak mungkin kita bilang: negara ini adalah Libya sekaligus Suriah)
3. Hukum penyisihan jalan tengah: kalau Libya, pasti bukan Suriah, pasti bukan juga setengah Libya, setengah Suriah (ga bisa “setengah-setengah”)
4. Hukum cukup alasan: sesuatu itu berubah jika memiliki alasan yang cukup. Contohnya, “siang berubah jadi malam, setelah matahari tenggelam”. Tidak logis kita bikin kalimat: “Pada pukul 12.00 WIB, tiba-tiba saja siang berubah jadi malam.” Atau “Assad itu dulunya baik, mau menampung jutaan pengungsi dari Palestina dan Irak, mau melindungi dan membantu HAMAS, tapi sejak 2012 dia membantai rakyatnya sendiri dengan senjata kimia”.

Jadi, bila kita menemukan situs Hizbut Tahrir menulis “Qaddafi adalah pemimpin tiran”, sementara situs PBB menulis, “Pendapatan perkapita Libya (sebelum 2011) mencapai 14.581 Dollar dan Human Development Index Libya adalah yang tertinggi di Afrika”, alarm di otak kita harus segera menyala.
Baca hukum no. 2: tidak logis ada dua hal kontradiktif dalam satu entitas: tiran tapi sekaligus bisa bikin makmur rakyatnya. Jadi, perlu digali lagi, mana informasi yang lebih benar.
--
Dalam ilmu logika, ada 3 hal terpenting yang perlu dipelajari (ada banyak hal lainnya, tapi 3 ini yang paling penting), yaitu DEFINISI, ARGUMENTASI, dan FALASI.
Definisi adalah keterangan atau penjelasan atas sesuatu.
Pendefinisian ini penting sekali karena kalau definisi sudah salah, proses penyusunan argumentasi pun akan salah.

Contoh 1: untuk kasus Libya, perlu dikritisi definisi ‘tiran’ yang dimaksud oleh situs Hizbut Tahrir, mengingat Hizbut Tahrir adalah lawan politik Qaddafi (bisa jadi, sebagian besar rakyat Libya -yang bukan anggota Hizbut Tahrir- tidak mendefinisikan Qaddafi sebagai tiran).

Contoh 2:
-A: Assad itu kejam sama orang Sunni, makanya kita orang Sunni sedunia harus membantu penggulingan Assad!
-B: Buktinya apa?
-A: Tahun 1982, Assad membantai ribuan orang Sunni di Hama.

Minimalnya ada dua masalah definisi di kalimat si A:
1. Siapa Assad yang dimaksud? Hafez Assad atau Bashar Assad? Kalau Hafez Assad, kan sudah mati, mengapa peristiwa di masa lampau dijadikan alasan untuk penggulingan Bashar Assad?
2. Siapa orang Sunni yang dimaksud? Apakah seluruh orang Sunni, atau yang dimaksud adalah kelompok Ikhwanul Muslimin yang melakukan kudeta bersenjata, mengebom fasilitas umum dan melakukan pembunuhan, dengan suplai senjata dari AS, pada tahun 1982 di Provinsi Hama?

Contoh 3:
A: Pak Jokowi itu anti Islam! Masak dia bilang “agama harus dipisahkan dari politik”?!
Sebelum kita berdebat soal pernyataan Pak Jokowi (itu pun harus dicek ulang, benarkah dia berkata demikian?), perlu kita perjelas definisinya. Apa yang dimaksud agama, apa yang dimaksud politik? Beda definisi, akan beda analisisnya. Apakah agama yang dimaksud Pak Jokowi adalah “kulit” atau “esensi”? Apakah yang dimaksud adalah Islam, atau agama lain? Apakah politik yang dimaksud adalah politik dalam makna upaya meraih kekuasaan, atau politik dalam makna ‘mengatur kehidupan negara agar mencapai kemakmuran bersama’? Dan seterusnya.

Contoh 4:
A: Syiah itu kafir, bukan Islam!
B: Buktinya apa?
A: Syiah itu suka menghina Ummul Mukminin dan para khalifah, kecuali Ali!

Di sini, perlu jelas dulu: apa definisi Islam? Apa definisi kafir? Apakah syarat masuk Islam adalah “tidak menghina Ummul Mukminin”? Ataukah menghina Ummul Mukminin sebatas “perbuatan haram”? Lalu, apakah seorang muslim yang berbuat sesuatu yang dihukumi haram otomatis keluar dari Islam? Lalu apakah semua orang Syiah suka menghina Ummul Mukminin, atau segelintir oknum saja? (dan sangat banyak pertanyaan lanjutan soal definisi ini).

Jadi, sekali lagi, definisi itu penting. Saat kita mendengar orang bicara (dan saat kita bicara/menulis), kritislah pada definisi ini. Jangan sampai kita terjebak dalam perdebatan konyol karena ternyata definisi yang dipakai berbeda. Jangan sampai kita buru-buru menghujat orang karena ternyata salah paham definisinya. Dan, jangan mau dibodohi orang yang bicara dengan mengaburkan definisi.
Demikian #KuliahLogikaTimteng bagian 2.

26 April  2017
Dina Sulaeman
Mei 15, 2017

LOGIKA TIMTENG BAGIAN KE-3

Ada komentator yang membantah saya dengan mengatakan “definisi itu relatif”. Jawaban saya: kalau mau relatif-relatifan, pembahasannya beda lagi, bukan di ilmu logika yang ini (yang sedang saya sampaikan ini). Dalam ilmu logika yang ini (yang sedang saya sampaikan) tidak ada relatif-relatifan, hanya dua pilihan: kalimat Anda salah atau benar (ingat 4 hukum dasar logika kemarin).

Ilmu logika yang sedang saya sampaikan ini punya asumsi bahwa hakikat itu ada, sementara di luar sana ada pemikiran bahwa segala sesuatu itu relatif, bahkan termasuk logika itu pun relatif. Buat saya, kalau semuanya relatif, buang saja otak dan akal kita. Saya sedang menulis untuk orang yang percaya bahwa hakikat itu ada dan akal itu adalah sesuatu yang bisa dipakai. Kalau Anda ada di luar dua wilayah itu, tidak perlu repot-repot mempelajari apa yang saya tulis. Jelas ya?

Dan, seperti saya tulis di awal, pelajaran yang saya sampaikan memang sederhana dan karena itu banyak dilakukan penyederhanaan (dan menyederhanakan sesuatu yang rumit bukan kerjaan yang mudah, untuk nulis 1 artikel ini, prosesnya sudah saya mulai sejak Rabu siang).
.
.
------
DEFINISI (bagian 2)
Definisi berasal dari kata Latin ‘definire’ yang berarti menandai batas-batas pada sesuatu atau batasan arti sesuatu. Kalimat definisi: X adalah... atau, Y adalah....
Cara membuat definisi:
1. Definisi harus menunjukkan ciri-ciri hakiki dari sesuatu yang didefinisikan, menunjukkan pengertian umum berserta ciri pembeda sesuatu itu dengan yang lainnya, berupa subjek dan predikat.
Contoh : Moammar Qaddafi adalah [Presiden Libya yang digulingkan NATO tahun 2011] ---> bagian definisi adalah yang di dalam kurung, ada subjek, ada predikat.

2. Definisi tidak boleh terlalu sempit, atau terlalu luas;
-Barrack Obama adalah orang AS ---> terlalu luas, karena yang dimaksud adalah Obama warga negara AS yang pernah menjabat jadi presiden pada periode 2008-2016.
-Politik adalah upaya merebut kekuasaan --> terlalu sempit, yang lebih benar, “Politik adalah segala sesuatu yang terkait dengan kekuasaan”.

3. Definisi tidak boleh sirkular (‘muter’ atau ‘daur’):
Contoh salah:
 -Pengetahuan adalah sesuatu yang diketahui. [Akan muncul pertanyaan: trus sesuatu yang diketahui itu apa? Jika dijawab: ‘pengetahuan’, jadi ‘muter’ kan?]
-Hukum waris adalah hukum yang mengatur warisan.

4. Dalam kalimat definisi, predikat harus lebih dikenal daripada subjek.
Contoh: Daoud Rajiha adalah menterinya Assad yang beragama Kristen Ortodox (karena Assad lebih dikenal daripada Rajiha, sehingga Assad digunakan sebagai penjelas siapa itu Rajiha). Tidak logis bila kita bilang sebaliknya: Assad adalah boss-nya Rajiha.
[FYI: Rajiha tewas tahun 2012 akibat dibom Al Nusra]

5. Definisi dinyatakan dalam bentuk positif, jangan negatif
-Definisi salah: Suriah adalah sebuah negara yang bukan Libya.
-Definisi benar: Suriah adalah negara yang terletak di pinggir laut Mediterrania, berbatasan dengan Jordan, Palestina, Israel, Turki, dan Lebanon.

6. Definisi harus singkat dan jelas, tidak menggunakan kiasan atau kata yang ambigu.
Contoh salah: Suriah adalah belahan jiwaku yang terletak di pinggir laut Mediterania.
Dalam kalimat ini, “belahan jiwa” adalah kiasan, bukan benar-benar jiwa (ruh)-nya dibelah dua dengan pisau. Tentu adalah urusan lain (bukan urusan ilmu logika) bila kalimat ini dipakai dalam novel atau lagu.

7. Definisi itu harus mengandung kebenaran material. Sangat mungkin ‘bentuk kalimat’-nya benar, tapi material (substansi/isi)-nya salah. Misalnya: Bumi adalah planet ke-3 dari tata surya yang bentuknya datar. Secara ‘bentuk', kalimat ini sudah benar (sudah memenuhi 6 kaidah definisi di atas), tapi isinya/material-nya, bermasalah. Perlu argumen tambahan: apa buktinya bahwa bumi itu datar?
.
.
---
Sesuai request, mari kita analisis kalimat “Ahok adalah penista agama”.
1. Kalimat di atas bukan “definisi” , karena tidak memenuhi kaidah definisi.
-Lihat poin 1, definisi perlu ada subjek-predikat. Kalimat yang bentuknya benar (terlepas dari ‘isi’-nya): Ahok adalah Gubernur Jakarta yang menista agama.
2. Lihat poin 7, definisi harus mengandung kebenaran material: benarkah Ahok “menista agama”?
Ada beberapa pertanyaan yang perlu dijawab untuk membuktikan kebenaran material definisi tsb, misalnya, apa definisi menista agama, apakah perbuatan Ahok masuk dalam kategori ‘menista agama’, dst. Pembahasan kebenaran material harus dilakukan dalam ranah ilmu yang terkait. Misalnya, apakah bumi itu datar atau bulat, itu masuk dalam ranah ilmu astronomi; kasus Ahok, dibahas di ranah hukum.
3. Ada beberapa kesalahan logika lain dari kalimat ini, tapi pembahasannya di bab lain, bukan bab definisi.
.
.
====
.
Jadi, contoh kalimat yang kemarin (logika bagian-2) dapat diperbaiki seperti ini:
a. Menurut aktivis Hizbut Tahrir Libya, Qaddafi adalah sosok pemimpin yang tiran sehingga harus digulingkan. [artinya: definisi ‘tiran’ di sini adalah versi Hizbut Tahrir; kita sudah melakukan ‘pembatasan’ di sini, karena ‘definisi adalah batasan arti sesuatu’]
b. Hafez Assad adalah mendiang Presiden Suriah yang pernah bertindak brutal saat memberangus pemberontakan bersenjata yang dilakukan oleh Ikhwanul Muslimin dengan dukungan AS, pada tahun 1982 di Provinsi Hama. [Perhatikan bahwa ini kalimat yang berbeda dari sebelumnya: Assad adalah presiden kejam yang membantai Sunni]
c. Pak Jokowi menyatakan bahwa agama tidak boleh dicampuradukkan dengan politik, dengan makna bahwa agama adalah.... dan politik adalah.... [buat definisinya, dengan mengikuti 7 kaidah di atas]
d. Menurut ustadz saya, orang Syiah adalah ... [berikan definisi dengan mengikuti 7 kaidah di atas]
.
.
============================
Quiz: perhatikan spanduk di foto ini. Yang bisa menjelaskan dimana kesalahannya (dari sisi definisi saja ya, jangan loncat ke bab lain), akan dapat hadiah buku "Salju di Aleppo". Kalo ada jawaban yang sama, akan diundi. Cuma ada 1 hadiah dan hanya dikirim ke alamat di Indonesia. Jawaban paling lambat jam 15 WIB (28/4/2017).
Bahasan ini masih bersambung ya, ga usah marah-marah. Stay tune di#KuliahLogikaTimteng

28 April 2017
Dina Sulaeman
Mei 15, 2017

LOGIKA TIMTENG BAGIAN KE-4

Di bagian sebelumnya kita bahas DEFINISI. Kini kita masuk ke ARGUMENTASI, yaitu penalaran yang disampaikan dalam rangka meyakinkan pihak lain.
Ingat kata kuncinya adalah ‘penalaran’ atau proses berpikir. Karena itu, bila ada orang yang beragumentasi dengan cara begini: “Assad itu diktator Syiah yang kejam, saya tahu dari ustadz X yang pernah datang ke Suriah.” --> ini bukan argumentasi; kalimat tersebut mengandung fallacy (kesalahan berpikir). Tentang fallacy akan dibahas di bagian 5.
Sekarang kita mempelajari PENALARAN, yaitu proses penarikan kesimpulan dari satu atau lebih proposisi (pernyataan).
Ada 2 jenis penalaran, yaitu langsung atau tidak langsung.
(1) Penalaran langsung, adalah menalar dengan berdasarkan 1 pernyataan saja, yaitu jika suatu pernyataan dianggap benar maka pernyataan yang kontradiktif menjadi salah.
Contoh: “semua warga RW 1 bisa membaca” --> artinya, kalimat “sebagian warga RW 1 buta huruf” adalah salah.
“Libya di masa Qaddafi memiliki Human Development Index tertinggi di Afrika” ---> artinya kalimat “Rakyat Libya pada masa Qaddafi hidup tertindas” adalah kalimat yang SALAH (karena kontradiktif dengan kalimat pertama).
“Setiap pekan, Assad sholat Jumat berjamaah bersama para ulama” ---> artinya kalimat “Assad memerintahkan seluruh rakyat Suriah untuk menyembah dirinya” adalah kalimat yang salah (karena kontradiktif dengan kalimat pertama).
(2) Penalaran tidak langsung, yaitu menalar dengan berdasarkan 2 (atau lebih) pernyataan (proposisi).
Ada 3 jenis: INDUKSI, DEDUKSI, ANALOGI
INDUKSI
Induksi adalah pengambilan kesimpulan umum (generalisasi) atas beberapa proposisi khusus (partikular).
Contoh:
(a) Asma Al Assad adalah warga Suriah, tidak berjilbab.
(b) Sarab Abed adalah warga Suriah, tidak berjilbab.
(c) Afraa Dagher adalah warga Suriah, tidak berjilbab.
KESIMPULAN: semua warga Suriah yang perempuan tidak berjilbab
Kesimpulan ini SALAH karena faktanya ada banyak perempuan Suriah yang berjilbab. Dengan demikian, generalisasi (induksi), tidak memberikan kepastian kebenaran (kadang benar, kadang salah).
Yang bisa disimpulkan dari penalaran induksi adalah ‘probabilitas’ (kemungkinan). Semakin banyak sampel (contoh) yang diambil dan semakin sedikit populasi sampel, semakin tinggi kemungkinan benarnya.
Misalnya, di sebuah kelas berisi 10 anak, 7 di antaranya sakit flu, kemungkinan besar seluruh anak di kelas itu sakit flu. Generalisasi menjadi BENAR ketika semua sampel diteliti (ke-10 anak di kelas itu diteliti dan semuanya memang sakit flu.
DEDUKSI
Deduksi adalah pengambilan kesimpulan dari sebuah proposisi umum (universal) dan sebuah proposisi khusus (partikular).
Contoh:
(a) Seluruh warga Suriah berhak mendapatkan pelayanan kesehatan gratis.
(b) Asma adalah warga Suriah.
Kesimpulan: Asma berhak mendapatkan layanan kesehatan gratis.
KESIMPULAN dipastikan benar, jika pernyataan umumnya (a) dan pernyataan khususnya (b) benar.
HATI-HATI, deduksi bisa salah kalau pernyataan (a) dan (b) sama-sama khusus (partikular) atau sama-sama negatif.
Contohnya, bisa dilihat spanduk yang di Logika Bag. 3 saya jadikan kuis.
(a) Liberalisme adalah paham yang menolak hukum agama.
(b) PKI adalah organisasi yang pahamnya menolak hukum agama.
Kesimpulan: PKI adalah paham yang sama dengan liberal.
Orang yang pernah belajar filsafat meskipun sedikit, akan tertawa terbahak-bahak membaca kesimpulan itu, karena salah banget. Analisis kesalahannya sudah saya tulis panjang lebar di Bag. 3 (di kolom komen). Tapi ditinjau dari penalaran deduksi, penalaran di atas salah karena pernyataan (a) dan (b) sama-sama partikular, sehingga tidak bisa diambil kesimpulan apapun.
ANALOGI
Analogi adalah mekanisme pembuktian atas sesuatu (misalnya A) dengan menunjukkan bukti yang ada pada sesuatu lain (B) yang memiliki kemiripan atau kedekatan dengan sesuatu itu (A).
Contoh:
(a) Pisang adalah buah yang rasanya manis.
(b) Kedondong adalah buah.
Kesimpulan: Kedondong pasti rasanya manis.
Kita tahu, umumnya kedondong rasanya asam. Artinya, analogi sering SALAH, jadi sebaiknya tidak beragumentasi dengan analogi.
Analogi bisa mencapai kebenaran ketika ada argumen lain yang terbukti benar.
Misalnya:
(a) Nasir mahasiswa HI Unpad, jago filsafat Barat.
(b) Budi mahasiswa HI Unpad
Kesimpulan: Budi jago filsafat Barat.
Kesimpulan ini bisa benar bila ada data lain yang mendukung (misalnya, bahwa seseorang harus lulus tes Filsafat Barat supaya bisa diterima jadi mahasiswa HI Unpad; artinya seluruh mahasiswa HI Unpad dipastikan jago Filsafat Barat).
Oleh karena itu, kita bisa mengkritisi pengambilan kesimpulan yang salah kaprah berikut ini:
(a) Imam Khomeini adalah orang Syiah, ia mendirikan negara berbasis agama (Wilayatul Faqih) di Iran.
(b) Bashar Assad adalah Syiah
Kesimpulan: Assad ingin mendirikan negara berbasis agama di Suriah.
Kesimpulan ini salah karena:
-Penalaran analogi TIDAK membawa kita kepada KEPASTIAN kebenaran.
-Bukti bahwa analogi ttg Assad dan Khomeini tidak benar secara material:
*Tidak semua orang Syiah ingin mendirikan negara berbasis agama, bahkan ada sebagian ulama Syiah yang menolak Wilayatul Faqih. Sistem ini disepakati melalui referendum di Iran thn 1979, sehingga akhirnya resmi berdiri sampai sekarang.
*Assad belum tentu Syiah atau Alawi (banyak juga yang menyebut ia Sunni, didukung oleh berbagai foto dan video saat ia sholat bersama para ulama Sunni Suriah).
Demikian dulu. Bersambung ke #KuliahLogikaTimteng bagian akhir (bab Fallacy).
16 Mei 2017
Dina Sulaeman