Post Top Ad

Post Top Ad

Tampilkan postingan dengan label Dina Sulaeman.. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Dina Sulaeman.. Tampilkan semua postingan

Minggu, 21 Mei 2017

Mei 21, 2017

Contoh kesatu

Perhatikan bagaimana media arus utama seluruh dunia hampir serempak menjadikan bocah di kursi oranye sebagai headline dan ‘simbol' korban Assad.

Ketika saya memposting tulisan yang mengungkap kejanggalan kasus ini, seorang komentator di Facebook yang setau saya tingkat pendidikannya cukup tinggi, menyanggah dengan argumen kurang-lebih “semua media besar sudah memberitakan, kok menganggap kejadian si bocah itu palsu?”

Argumen seperti itu masuk kategori kesalahan (fallacy) jenis “argumentum ad populum” (menganggap sesuatu itu benar hanya karena banyak orang mempercayainya). Atau bisa juga masuk ke “argumentum ad verecundiam” (menganggap sesuatu itu benar karena ada pakar atau institusi yang dianggap ‘hebat’ yang mengatakannnya).

Coba pikir, apakah hanya karena semua media mainstream memberitakan, sebuah berita DIPASTIKAN benar?

Belum luput dari ingatan, betapa seluruh media mainstream memberitakan bahwa Irak menyimpan senjata pembunuh massal. Atas alasan itu AS dan sekutunya menggempur Irak pada 2003, menggulingkan Saddam Husein, mendudukinya sampai sekarang. Data 2013, sedikitnya ada setengah juta orang Irak tewas akibat pendudukan AS sejak 2003. Pada 2011, dari mulut para pemimpin AS sendiri, muncul pengakuan: TIDAK ADA SENJATA PEMBUNUH MASSAL di Irak.

Karena itu, fokus pada data, bila ada yang menyanggah, perhatikan data sanggahannya. Bukannya malah berfalasi dengan berkata, "Kata ustad saya!" atau "Semua koran terkemuka bilang gitu kok!"


Dina Sulaeman
Mei 21, 2017

LOGIKA TIMTENG BAGIAN TERAKHIR

FALASI – 2
Jenis-Jenis Falasi (lanjutan)
(6) Argumentum ad Populum adalah beragumen dengan berdasarkan “banyak orang yang mengatakan hal itu.”
Contoh:
A: “Qaddafi itu pemimpin zalim! Memang layak ditumbangkan oleh mujahidin!”
B: Apa buktinya? Kalau dia zalim kok bisa Libya jadi negara dengan kualitas pembangunan manusianya terbaik se-Afrika? Kok bisa semua digratiskan, kesehatan, pendidikan, dll.
A: Semua ustadz dan ustadzah kita bilang demikian kok!
.
A: Kisah “bocah di kursi oranye itu” di Aleppo itu kemungkinan besar “staged” (dibuat/direkayasa), karena beberapa kejanggalan berikut ini.. [penjelasan].
B: Anda ngawur! Semua media besar, New York Times, BBC, CNN, sudah memberitakan kasus ini!
.
(7) Fallacy Ignoratio Elenchi: kesimpulan yang diambil dari premis tidak relevan.
Contoh:
“Dia itu ustadz besar lho! Hafal Quran! Tidak mungkin dia melakukan kejahatan tersebut!”
“Anda saksikan sendiri, para anggota HTI itu pintar-pintar, sholeh, rajin mengaji, ga suka pacaran... mana mungkin mereka merencanakan makar pada NKRI?”
.
(8.) Argumentum ad ignorantiam: menyimpulkan sesuatu itu benar karena negasinya belum terbukti, atau sebaliknya.
Contoh (perhatikan kata yang saya kasih tanda bintang):
-Hantu itu *tidak ada*, karena tidak ada yang bisa membuktikan bahwa hantu itu *ada*
-Bumi itu *bulat*, karena tidak ada yang membuktikan bahwa bumi itu *datar*.
-Assad itu *pelaku* serangan gas kimia di Idlib karena *tidak ada* investigasi PBB yang menyebutkan bahwa *bukan* Assad pelakunya.
.
.
A: Assad itu diktator Syiah yang bengis, laknatulloh! Ini lihat foto korban-korbannya!
B: Lho, itu kan foto di Gaza, bukan di Suriah [sambil memperlihatkan hasil cek di google image]
A: Kalau gitu, Anda buktikan pada saya bahwa Assad itu bukan diktator Syiah yang jahat!
B: [dalam hati: kok elu ngasih kerjaan ke gue? Elu yang nuduh, elu yang kasih bukti dong!]
.
(9) Falasi aksidensi: kita memaksakan aturan umum pada suatu keadaan yang aksidental.
Contoh:
“Bashar Assad itu pemimpin brutal dan diktator, lihat saja, dia membantai para mujahidin!”
[aturan umum: membunuh adalah kejahatan; tapi dalam kasus Suriah, mereka yang disebut “mujahidin” adalah milisi bersenjata proxy AS, Saudi, dll, yang melakukan serangan bersenjata dengan tujuan menggulingkan pemerintahan yang sah yang terpilih melalui pemilu].
(10) Falasi komposisi dan divisi: kesalahan berpikir yang muncul dari anggapan bahwa apa yang benar atau berlaku bagi individu tertentu pasti juga berlaku untuk seluruh individu yang ada pada kelompok itu. Ini sama dengan analogi (jadi, analogi pada dasarnya salah satu bentuk falasi, kecuali pada kondisi tertentu, baca lagi bab analogi). Kesalahan analogi juga bersumber dari pembandingan yang tidak setara. Karena itu, contoh-contoh berikut ini malah dobel-falasi (pakai analogi + analogi tidak setara).
Contoh:
-“Nak, kamu harus berani berenang dong, masak kalah sama ikan?”
-“Kalau HTI dibubarkan, mengapa Syiah dan Komunis tidak dibubarkan juga?”
-“Kalau Menteri Agama menolak memerintahkan agar warung tutup di bulan Ramadhan untuk menghormati mereka yang TIDAK PUASA, maka harusnya Menag memerintahkan Bandara Bali BUKA DI HARI NYEPI untuk menghormati mereka yang tidak beribadah Nyepi!”
.
PENUTUP
KEPASTIAN kebenaran hanya bisa didapatkan dari DEDUKSI (dengan sejumlah aturan, tentunya), sementara itu INDUKSI hanya memberikan KEMUNGKINAN. Karena itu, kita tidak boleh memastikan, menghakimi, apalagi mengambil tindakan (misalnya, pergi jihad ke Suriah lalu mengebom-ngebom di sana) hanya berdasarkan penalaran induktif. Apalagi, berdasarkan ANALOGI.
Falasi yang dijelaskan di sini hanya SEBAGIAN KECIL dari banyak falasi lainnya (teman saya, seorang doktor filsafat, sudah menginventarisir 70-an jenis falasi). Tapi semoga dari yang sedikit ini saja, setidaknya, kita semakin kritis dan berhati-hati dalam menerima informasi.
Dina Sulaeman


Mei 21, 2017

LOGIKA TIMTENG Bagian 5

Ini BAB FALASI
FALASI - 1
FALASI (fallacy) adalah kesalahan berpikir yang diakibatkan oleh ketidakdisiplinan dalam menyusun argumen; bisa terjadi pada pendefinisian, penggunaan premis, penggunaan data, penarikan kesimpulan, dan semua aspek logika lainnya.
Falasi terkadang mengantarkan kepada kesimpulan yang benar. Akan tetapi, seandainya itu terjadi, hal tersebut hanyalah sebuah kebetulan.
Jenis-Jenis Falasi:
(1) Argumentum ad hominem, yaitu membantah argumen seseorang dengan menyerang personalitas orang tersebut, bukan menyerang argumennya.
Contoh:
A: Bashar Assad itu bukan pemimpin sempurna, tapi dalam konflik ini, dia ada dalam posisi sebagai presiden yang sah yang negaranya sedang diperangi oleh milisi bersenjata yang dibiayai AS, Inggris, Perancis, Saudi, Qatar, dll. Secara de facto, dia diserang dan diperangi pihak asing dan serangan ini adalah pelanggaran hukum internasional. Dalam perspektif realis, Assad berhak melawan invasi asing demi mempertahankan pemerintahannya.
B: Anda berkata demikian karena Anda Syiah! [*bayangkan ada backsound: tettoooot....]
(2) Argumentum ad verecundiam, yaitu berargumen dengan berlindung di balik kredibilitas orang atau menganggap semua perkataan orang yang dianggap kredible pasti benar, padahal:
- kebenaran materialnya harus dibuktikan dulu
-kredibilitas seseorang harus relevan dengan pernyataannya
Contoh:
A: Bumi itu datar.
B: Apa argumennya?
A: yang bilang Bapak A! Dia itu profesor, lho! Masa kamu ga percaya??
Pertama, kita menyimpulkan bahwa bumi itu bulat atau datar harus berdasarkan argumen&bukti, bukan semata-mata ‘kata profesor’. Kedua, kalaupun mau ‘bertaklid’ pada profesor (karena tidak mungkin bagi kita untuk meneliti hingga detil seluruh fenomena di alam semesta), perlu dilihat, apakah Bapak A profesor di bidang astronomi (relevan dengan topik yang dibahas), atau bidang lain?
(3) Argumentum ad baculum, yaitu berargumentasi dengan didasarkan pada kemungkinan buruk/ancaman bila sesuatu itu terjadi (atau tidak terjadi).
Contoh:
“Khilafah yang diperjuangkan Hizbut Tahrir adalah sebuah solusi yang terbaik bagi Indonesia, karena jika khilafah tidak ditegakkan moral rakyat Indonesia akan semakin terpuruk dan kemaksiatan meraja lela. Lihat saja, penderita AIDS di Indonesia semakin hari semakin meningkat, itu karena kita tidak memakai sistem khilafah!” [*mau ada backsound lagi? :D]
(4) Fallacy non causa pro causa, yaitu berargumentasi secara keliru karena penyebutan ‘sebab’ yang tidak tepat (karena betul-betul bukan sebab, atau menyebut ‘akibat’ sebagai ‘sebab’, atau menyebut hanya 1 sebab padahal ada beberapa sebab)
Contoh:
 a. Iran menjadi sumber ketidakstabilan di Timteng karena mensponsori Al Qaida [Iran tidak mensponsori Al Qaida]
b. Hosni Mobarak jatuh karena tidak disukai lagi oleh AS. [padahal ada banyak faktor: dia korup, melanggar HAM, gelombang demokratisasi, kesulitan ekonomi rakyat, krisis pangan global, pengaruh media sosial, dll]
(5) Argumentum ad Misericondiam, yaitu berargumentasi dengan membangkitkan belas kasihan/sentimental.
Contoh:
A: Kita harus membantu rakyat Suriah! Mereka ditindas oleh rezim Bashar Assad laknatulloh!
B: Apa buktinya mereka ditindas?
A: Lho kamu tidak lihat, mereka saat ini tinggal di pengungsian, kelaparan, kedinginan. Itu karena lari dari penindasan setan Assad! Kasian sekali mereka! Ini liat, ada fotonya, anak-anak kurus kering kelaparan. Ayo kita infakkan sebagian harta kita untuk membantu mereka!
----
KUIS : silahkan perhatikan video berikut ini, coba dipikirkan, apa jenis falasi yang digunakan Trump dan Obama? [pidato Trump ada 3 bagian, 3 jenis falasi; pidato Obama 1 jenis]. Jawaban yang benar akan saya beritahukan besok (tapi tanpa hadiah lho ya).
Bersambung ke #KuliahLogikaTimteng bab falasi bagian 2, setelah itu tamat.
Dina Sulaeman.