Post Top Ad

Post Top Ad

Tampilkan postingan dengan label Ahok. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Ahok. Tampilkan semua postingan

Rabu, 07 Juni 2017

Juni 07, 2017

Ahok Dan Tiga lapis Pasword APBD DKI Jakarta

Masih ingat beberapa hari setelah menang Pilkada Jakarta Anies berkunjung ke Balaikota dan dipandu Gubernur Ahok untuk Tour de Balaikota, mengenali fasilitas dan sistem yang ada di Calon Kantornya kelak?

Seusai Tour tersebut Anies terpantau cemberut menghadapi Konperensi Pers.
Apa pasal?

Karena ternyata Anies baru tahu kalau APBD DKI itu sudah terkunci di DKI!
Untuk membukanya supaya bisa diubah dan dikotak-katik diperlukan TIGA LAPIS PASSWORD yang masing-masing dipegang oleh Gubernur, BPK dan KPK!

Apa artinya itu?
Sabtu 3 Juni 2017 saya baru mengerti setelah diterangkan oleh Mas Sylvester Dandy, sobat yang memang Ahli di bidang IT.

BPK dan atau KPK bekerja dengan cara mengaudit Keuangan di sebuah Instansi Pemerintah. Dari Audit Forensik itulah akan ditemukan ada atau tidaknya Penyelewengan Keuangan di Instansi yang bersangkutan.

Berdasarkan pengalamannya berkecimpung di dunia politik, Ahok yang dikenal sangat Anti Korupsi sampai ke tulang sumsumnya itu menciptakan suatu sistem yang tidak pernah dikenal di Republik Indonesia sebelumnya.

Dengan sistem yang demikian itu "Audit Forensik" tidak perlu susah-susah dilakukan oleh siapapun untuk menemukan penyelewengan. Karena sekali APBD telah disepakati dan disahkan, maka Sistem tersebut telah terkunci di Sistem Komputer Pemda DKI Jakarta.

Untuk mencairkan uangnya, atau (apalagi) mengubah peruntukannya, pertama-tama sistem harus dibuka memakai password yang dipegang oleh Gubernur DKI.
Ini tentu mudah saja dilakukan oleh Gubernur.

Tapi tunggu dulu!
Apapun yang akan dikerjakan Gubernur haruslah disetujui dulu oleh lapis kedua.
Yakni persetujuan BPK!
Kalau BPK sepakat, barulah Pejabat yang berwenang di BPK akan memberikan password yang dipegangnya untuk membuka "kunci" Keuangan Pemda DKI Jakarta itu.

Selesai?
Beeeeluuummmm.....!!!
Masih ada lapis ke tiga yaitu KPK.
KPK akan memeriksa dulu seperti yang telah dilakukan oleh lapis kedua yaitu BPK tadi. Setelah menyepakatinya, barulah Pejabat Yang Berwenang di KPK juga akan memberikan passwordnya.
Barulah uang bisa dicairkan/dikeluarkan.
Atau Perubahan bisa dilakukan!

Dengan sistem yang diciptakan Pemerintahan Gubernur Ahok ini di masa depan BPK dan KPK tidak perlu susah-susah bekerja untuk menemukan adanya Penyelewengan Keuangan, karena niat untuk ini akan terdeteksi oleh BPK dan atau KPK sejak dari awalnya.

ALIAS KORUPSI MUSTAHIL DILAKUKAN DI PEMDA DKI JAKARTA!
Jadi bukan saja memberantas korupsi (yang dilakukan SETELAH korupsinya sendiri berjalan), Ahok malah sudah melompat jauh ke depan: Yaitu MENCEGAH terjadinya korupsi dari awal!

Sistem ini dibuat atas kebijaksanaan Gubernur (yaitu Ahok).
Tapi BELUM menjadi Kebijaksanaan Pemerintah Pusat!


Sehingga masih sangat dimungkinkan untuk diubah kembali oleh Gubernur yang berikutnya.
Mari kita himbau Pemerintah yaitu Kementerian Dalam Negeri atau bahkan Presiden RI menjadikan Sistem ini sebuah Standar Kebijaksanaan Keuangan Nasional!

Mari ramai-ramai kita kampanyekan lewat segala media yang ada, untuk mendukung Pemerintah dalam upayanya MEMBERANTAS KORUPSI di Negara Republik Indonesia Tercinta ini!
Iwan HS
Pamulang, 7 Juni 2017.

Senin, 01 Mei 2017

Mei 01, 2017

Ini Bukan Soal Ahok Semata

Saya perhatikan banyak orang salah-paham dan gagal-njegal memahami berbagai tulisan dan postinganku selama ini, khususnya yang berkaitan dengan Ahok, sampai-sampai ada yang menuduh saya "buzzer" Ahok, timses Ahok, sekutu aseng-kapir, dlsb. Bahkan tidak sedikit yang bicara ngawur seenak jenggotnya sendiri kalau saya dibayari Ahok dan timnya. Kalau Anda menuduhku seperti itu, berarti Anda tidak kenal saya.

Saya jelaskan sekali lagi, saya melakukan dukungan dan pembelaan terhadap Ahok itu adalah sukarela dan "dorongan akademis" bukan karena dibayari atau diiming-imingi sesuatu. Lagi pula, saya tidak kenal Ahok apalagi bertemu dan "selpi" dengannya. Saya tidak butuh semua itu karena hidupku sudah cukup bahagia apalagi saya bukan tipe orang "glamour" dan serakah yang hobi memupuk kekayaan dan berfoya-foya. "Harta karunku" cuma buku. Saya sudah bahagia kalau sudah makan pakai tempe, ikan, kerupuk, semur jengkol he he. Murah-meriah.

Sampai sekarang saya tidak punya mobil (meskipun kalau mau saya bisa membelinya, tentu saja bukan yang mobil mewah ala "ustad seleb" itu) dan memang tidak bisa nyetir mobil. Saya juga tidak bermimpi ingin punya "villa mewah" dan tetek-bengek lainnya karena sama sekali tidak berminat (meskipun kalau saya mau, saya tidak bisa membelinya he he).

Uang gajiku selama ini, baik waktu kerja di Amerika, Singapore, dan Saudi, tidak saya nikmati sendiri atau "inpestasi" atau apalah istilahnya, tetapi selalu saya bagi-bagi dan berikan untuk biaya hidup dan kebutuhan orang tua dan saudara-saudara, biaya sekolah dan kuliah keponakan-keponakan, beasiswa ke sejumah siswa, serta untuk membangun rumah orang tua dan saudara dan tempat ibadah di kampung. Untuk apa memupuk uang dan kekayaan karena kita semua akan meninggal?
Jelasnya, saya membela Ahok bukan karena persoalan material sama sekali bukan. Tetapi lebih pada persoalan intelektual-spiritual.

Saya membela Ahok bukan karena ia seorang "aseng-kapir" atau China-Kristen tetapi karena integritasnya. Saya sudah bilang, jika saya semata-mata membela "aseng-kapir", coba Eddy Tansil alias Tan Tjoe Hong suruh nyalon, nanti saya siapkan "bom panci" untuknya. Ngumpet dimana dia sekarang? Jangan-jangan lagi umroh? he he

Saya bahkan "tidak membela Ahok" tetapi membela hak-hak politik Ahok sebagai warga negara yang memiliki hak yang sama dengan etnis dan agama apapun di Negara Indonesia.
Saya membela Ahok karena ia menjadi korban sindikat politik-agama yang keji, jorok, biadab, dan kotor-njetor penuh rasisme dan etnosentrisme yang jika dibiarkan akan membahayakan tatanan dan fondasi kebangsaan dan kenegaraan.

Saya membela Ahok bukan karena membela "minoritas" tetapi membela rasa keadilan dan kemanusiaan yang sudah digadaikan dan dilacurkan oleh sejumlah politisi, agamawan, dan tukang dagang gemblung yang masya Allah serakahnya.
Siapapun Anda, apapun etnis dan agama Anda, jika mengalami nasib seperti Ahok, akan saya bela. Siapapun Anda, apapun etnis dan agama Anda, jika bersikap intoleran, tukang bikin onar dan kekerasan serta anti-pluralisme, kebhinekaan, dan kebangsaan, pasti akan saya lawan!
#IniBukanSoalAhokSemata

#Ahok

Sumanto Al Qurtuby